| Jauhkan Perdebatan Soal IPO BUMN |
|
| Kamis, 19 Juli 2007 - 09:02:55 \W\I\B | |
|
Betta-online.com : Pro dan kontra soal pelepasan saham badan usaha milik negara (BUMN) melalui penawaran perdana saham (initial public offering/IPO), sepertinya tidak perlu diperdebatkan lagi. TERBUKTI, BUMN yang sudah IPO dan listing di pasar modal mencatat peningkatan market valuerata-rata sebesar 452%. Selama ini, tidak jarang saham BUMN yang akan dilepas ke publik diwarnai dengan perdebatan yang tiada ujung pangkalnya. Akibatnya, momentum pasar sering kali lenyap begitu saja, tanpa bisa diraih oleh BUMN yang akan diprivatisasi. Tengok saja kasus PT Jasa Marga dan PT Wijaya Karya. Jasa Marga semula telah dijadwalkan melepas saham IPO pada semester I/2007. Tetapi karena dililit persoalan nonteknis, jadinya harus molor lagi. Manajemen perusahaan operator jalan tol itu hanya bisa mengeluh, karena masalahnya sudah di luar kewenangan mereka. Jadilah manajemen perusahaan pelat merah itu sebagai ponton yang ”sopan” melihat geliat pasar modal yang begitu menggairahkan sepanjang semester I lalu. Dengan kenaikan market value itu, sepertinya menjadi peluru tersendiri bagi Meneg BUMN Sofyan Djalil ketika menjawab pertanyaan anggota Komisi XI DPR, kemarin seputar kondisi teranyar BUMN saat ini. Bicara soal market value BUMN pasca-IPO, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) telah membuktikan dengan peningkatan market value 1.004%, menjadikan perusahaan tersebut berada di peringkat pertama. Harga saham perdana emiten berkode PTBA itu pada Desember 2003 sebesar Rp575,dan pada posisi 28 Juni 2007 telah menembus pada level Rp6.350. Dari sisi nilai pasar,perusahaan ikut terdongkrak dari Rp1,32 triliun menjadi Rp14,631 triliun. Posisi kedua diduduki PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang mengalami peningkatan market value sebesar 796% dari Rp2,67 triliun menjadi Rp23,941 triliun. Menyusul perusahaan konstruksi PT Adhi Karya Tbk pada urutan ketiga, dengan peningkatan sebesar 620% dari market value Rp270,198 miliar menjadi Rp1,94 triliun. Peringkat keempat tercatat PT Semen Gresik Tbk yang mengalami peningkatan market value 597%, dari sebesar Rp4,152 triliun pada 1991 menjadi Rp28,945 triliun pada posisi 28 Juni 2007. Posisi kelima bertengger PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dengan kenaikan 551% dari Rp10,755 triliun pada November 2003 menjadi Rp70,063 triliun pada 28 Juni 2007. Sementara itu, posisi keenam hingga kedua belas secara berurutan adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Timah Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk,PT Kimia Farma Tbk,dan PT Indofarma Tbk. Penelitian yang dilakukan Kementerian Negara BUMN atas dampak privatisasi terhadap kinerja BUMN, menunjukkan privatisasi di Indonesia memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan. Penelitian itu untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan, apakah benar privatisasi yang dijalankan pemerintah sepanjang 1991 hingga 2004 memberikan dampak yang positif bagi perusahaan. Peningkatan itu ditunjukkan pada empat hal. Pertama, kenaikan profitabilitas yang diwa- kilkan return on sales (ROS), yang meningkat dari 9,15% menjadi 24,66%. Kedua, dari sisi output, naik dari 76,08% menjadi 142,56%. Ketiga,operating efficiency yang diwakili efisiensi penjualan naik dari 517,33% menjadi 712,66%, sedangkan efisiensi laba meningkat dari 22,03% menjadi 163,61%. Keempat, dari sisi leverage yang diwakili debt to equity ratio (DER) membaik dari413,44% menjadi203,77%. Setelah dilaksanakan privatisasi, jumlah karyawan relatif tidak mengalami penurunan, bahkan secara statistik meningkat dari rata- rata 10.805 orang menjadi 10.901 orang. (nunung ahniar) (KoranSindo)
|
| Next > |
|---|